Nilai Sebuah NOL
![]() |
| (Dokumentasi pribadi; Titik Nol Kilometer Yogyakarta, 17 Juli 2020) |
"Dimulai dari 0, yaa…", ucap ramah petugas SPBU
"Neng, boleh minta no henponnya?"
"Boleh. 0xxx-xxxx-xxxx. Pulsanya yang 5 rebu aja ya, Kang!"
"Saldo Anda Rp. 0.00”, tulisan paling mengerikan saat mengecek saldo rekening di akhir bulan
"Bersediakah memulai kisah kita dari 0, bersamaku?", tanya 0 pada deretan bilangan cacah
“Oh… Rasanya hidupku kini tengah berada di titik 0. Masih jua di titik 0. Entah sampai kapan –bla bla bla--”, jerit batin dramatis seorang manusia
-NOL-
Oh baiklah, tak apa jika tengah merasa demikian. Sesekali dramatis pada diri sendiri bukan suatu kesalahan dan bentuk kerendahan. Terima saja. Akui saja. Nikmati saja fase 0 ini
Karena apa?
Karena bukankah 0 juga istimewa?
Ingat, 0 tidak sama dengan kosong! Dia juga bernilai. Ya, NOL, itulah nilainya
Lagipula, 0 itu ‘pribadi” yang unik
Kita lihat, betapa pandainya ia menempatkan diri dan beradaptasi dengan situasi
Suatu ketika, ia cukupkan dirinya hanya sebagai identitas operasi hitung saja –penegas identitas untuk bilangan lainnya
Bilangan apapun yang ditambah atau dikurangi 0, hasilnya pasti kembali ke bilangan itu sendiri
0 berbaur, namun sedianya tak merubah identitas siapapun
Tapi, pada kesempatan lain –yang memang seharusnya dan sepantasnya, ia hadir memberi makna, merubah nilai dan derajat angka sekitarnya
38 dan 308 tentulah berbeda
Tak tanggung, di waktu yang tepat bahkan perannya tak boleh diremehkan
Saat mendampingi dibelakang suatu angka, hadirnya justru melipatgandakan nilainya
Semakin banyak ia hadir, semakin besar nilainya
1; 10; 100; 1000; ….
Oya, 0 bukan bilangan positif, pun negatif. Ia netral. Sang juru damai ketika 2 buah bilangan berlawanan dengan kekuatan seimbang berpaduan
(-2) dipadukan 2, hasilnya dinetralkan menjadi 0
Positif dan negatif berkekuatan sama bergabung menjadi netral. Damai
Punya 2 ujian masalah, ditambah 2 ujian kenikmatan, harusnya hasilnya netral. Biasa saja
Tak terpuruk dalam kedukaan, pun terlena dalam kebahagiaan
“Tapi, rumus hidup tak sesederhana itu, Esmeralda!”
Ya, memang.
Jadi, untuk menegarkan diri, bolehlah kiranya menganalogikan titik 0 sebagai titik unik hidup kita (?)
Tak apa jika masih di titik 0
Yuk, kita ingat lagi posisi 0 di koordinat kartesius
Ya, dia ada tepat di tengah, pada perhimpitan sumbu absis dan ordinat
Mungkin maknanya, jika kita masih di (0,0), yang perlu kita lakukan hanyalah terus bergerak maju, tak apa meski perlahan. Lama kelamaan akan sampai pada nilai yang diinginkan (dan ditakdirkan) --meski sekali lagi, 0 pun bernilai
Yang terpenting disini adalah arah geraknya
Pastikan hanya ke sebelah kanan atau atas, menuju nilai-nilai positif, menjauhi area bertanda negatif, agar perjuangan meninggalkan titik 0 tak sia-sia
Ah iya, bijak sekali Sang Penemu mengatur posisinya. Maha Besar Allah yang telah memberi sebagian ilmu dan nilai hikmah padanya
Bukankah dalam kehidupan pun begitu, ‘arah dan golongan kanan’ seringkali dianalogikan sebagai kebaikan, dan ‘atas’ melambangkan kenaikan, kemajuan, peningkatan
Tak apa jika masih di titik 0
Jika ingat teori peluang, maka akan kita dapati bahwa nilai peluang terjadinya sesuatu berkisar antara 0 hingga 1
Jika nilainya 0, artinya kemustahilan. Jika 1, artinya kepastian. Lalu, nilai-nilai diantaranya adalah kemungkinan
Mungkin begitupun dalam kehidupan
Pada banyak hal, kita tak pernah tau kemustahilan atau kepastian akan terjadinya sesuatu yang kita ingin maupun takutkan, sebelum kita benar-benar melaluinya. Yang kita tahu hanyalah kemungkinan-kemungkinan, yang kesemua nilainya diawali 0
Meski 0,0000xxx pun, itu tetap saja kemungkinan. Sebuah harapan
Tak apa jika masih di titik 0
Yang kita tahu sekarang, di deretan himpunan bilangan cacah, 0 memang menduduki posisi pertama
Namun siapa sangka bahwa ia adalah angka yang melalui perjuangan paling lama sebelum diakui eksistensinya
0; angka yang terakhir muncul setelah kemunculan angka 1 sampai 9
Kabarnya, kisahnya bermula dari saat ditemukannya pada manuskrip Bakhshali di India berabad tahun silam, lalu semakin dipopulerkan oleh seorang matematikawan kebanggaan umat Muslim, Al-Khawarizm; mendapat penentangan dari beberapa bangsa karena suatu alasan, sehingga diawal penggunaannya harus sembunyi-sembunyi; dan akhirnya bisa digunakan secara bebas setelah melawati perjuangan panjang
Eksistensinya diakui secara lebih terang
Jadi, jika bercermin dari angka 0 itu sendiri, bukankah tak apa jika masih di titik 0?
Ya, asal terus bergerak, ke kanan atau ke atas



Komentar
Posting Komentar