"QUARTER LIFE CRISIS SURVIVOR" ; SEBUAH RUANG KECIL BUKU ANTOLOGI "MELEJIT SAAT TERJEPIT"

          

Pict : unsplash.com

        Kekhawatiran akan masa depan, bingung apa yang harus dilakukan, kegalauan mengambil pilihan, hilang arah tujuan. Kehidupan stagnan, waktu berlalu begitu saja, tiba-tiba mendewasa, tau-tau tua tanpa karya dan makna, tertinggal jauh sendirian di fase yang masih sama. Pola kehidupan baru, idealisme yang perlahan luntur terbentur tantangan kehidupan. Impian-impian yang belum tercapai, pekerjaan tak sesuai harapan, ilmu belum teramalkan, rumah tangga idaman belum terwujudkan, serta standar-standar kesuksesan lainnya yang belum didapatkan. Membandingkan diri dengan pencapaian teman sebaya, hingga merasa tak ada apa-apanyaujian kesabaran melalui komentar-komentar orang sekitar yang tanpa diminta turut memikirkan laju kehidupan. Lalu menjadi insecure, merasa lemah, sampai-sampai ingin segera kembali pada-Nya.

Pernahkah atau bahkan sedang merasakan tekanan-tekanan tersebut? Jika iya, selamat karena Anda --dan juga saya-- tengah berada dalam kondisi yang (kata orang-orang) dinamakan Quarter Life Crisis (QLC), alias “krisis hidup seperempat abad”. Krisis ini menghadang saya semenjak lulus perkuliahan. Keluar dari ‘zona aman dan terukur’ itu menimbulkan kebingungan tentang langkah selanjutnya. Tentang kontribusi yang dapat diberikan pada duniabagaimana mengamalkan ilmu dan mengantarkannya mencapai gelar terbaik : ilmu yang bermanfaat --amal jariah yang pahalanya terus tercatat.

Di masa ini saya pernah gagal mewujudkan impian S2 –tanpa pernah terlebih dahulu mencobanya, ditolak instansi pemerintahan, gagal pada seleksi akhir sebuah BUMN dan instansi penelitian berskala internasional, hingga 2 kali gagal seleksi CPNS. Saya merasa (sangat) terpuruk, karena merasa bahwa setiap ikhtiar menggapai impian selalu dihadang kegagalan. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun, ada keresahan yang terus-menerus menghantui: pekerjaan yang tak sesuai passion dan impian, ilmu yang belum cukup termanfaatkan, merasa stagnan. Hari berganti, usia kian menua. Krisis hidup bertambah dengan pertanyaan-pertanyaan terkait pernikahan. Rasanya hidup harus sesuai dengan standarnya orang lain, standar suksesnya, bahkan waktunya. Seringkali diri merasa santai saja meniti jalan takdir yang memang sudah jelas-jelas harus dijalani saat ini, tanpa melirik kanan-kiri, tanpa membandingkan. Namun, kebisingan-kebisingan dari luar seringkali malah menggoyahkan haluan, melemahkan keyakinan dan melunglaikan langkah-langkah perjalanan.

Disisi lain, dalam pikiran diri sendiripun sebenarnya banyak sekali kebisingan. Tentang jalan hidup yang diharapkan sesuai rencana. Tentang target-target yang diharapkan berjalan sempurna. Tentang standar kebahagiaan dan pencapaian pribadi yang diharapkan terealisasi seluruhnya. Namun, seringnya ekspektasi dan realita yang berbenturan, membuat diri harus berupaya mengelola rasa kecewa, bangkit kembali sekuat tenaga, melanjutkan proses pencarian jati diri dan value yang akan dijadikan pegangan hidup. Dunia ibarat padang pasir luas, sementara diri hanyalah seorang musafir yang bahkan tak mampu membaca arah angin.

Itulah sekilas potret menyesakkannya menghadapi QLC –versi saya. Saya pernah benar-benar merasa resah, sendirian, hilang arah tujuan, putus asa. Seterpuruk itu, hingga sempat berniat menemui psikolog agar dapat bercerita, lalu mendapatkan solusinya. Biaya kunjungan psikolog yang tak murah, ditambah kekhawatiran dugaan orang sekitarmembuat saya urung melakukannya. Jadi, tak ada pilihan lain selain berupaya sendiri “menyembuhkannya”. Meski saya tahu, jika kapasitas kita sudah tak mampu, maka meminta bantuan orang lain yang mumpuni adalah pilihan yang paling tepat.



Pict : unsplash.com

Menyadari fase QLC

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyadari bahwa rentetan keresahan ini adalah gejala dari suatu krisis bernama QLC. Saya bersyukur karena segera mengetahui dan menyadarinya, sehingga lebih mudah mencari cara menghadapinya, dibanding sama sekali tak faham dengan apa yang sebenarnya dihadapi.


Pict : canva.com

Menerima kondisi yang dihadapi

Setelah menyadari penuh bahwa tengah berada di fase ini, maka menerimanya adalah hal paling waras yang harus dilakukan. Alih-alih meratapi dan menyalahkan takdir atau siapapun, penerimaan akan membawa pada pemahaman bahwa fase ini umum dihadapi orang-orang seusia kita. Akan baik-baik saja selama berusaha melewatinya dengan bijaksana.


Pict : unsplash.com

Menyadari kerapuhan dan kekurangan diri. It’s ok, nobody's perfect!

Dengan demikian, kita seolah menemukan “penyakit” dari dalam diri, sehingga lebih mudah menemukan upaya untuk mengatasi perasaan insecure itu. Coba jujur pada diri sendiri, uraikan hal apa saja yang tidak kita sukai dari diri sendiri, yang menurut kita merupakan penyebab timbulnya krisis-krisis itu. 

Misalnya, saya seringkali merasa rendah diri, pesimistakut akan penolakan dan kegagalan. Saya faham bahwa sifat-sifat negatif ini menjadi penghalang untuk berani mengambil langkah beresiko dalam mencapai tujuan. Seringkali saya merasa takut kalah sebelum memulai perjuangan. Misalnya saja saat berkompetisi dalam suatu tes pekerjaan, lalu bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang almamater yang notabene lebih hebat dan terkenal. Padahal pada tahapan tes-tes tertulis rasanya berjalan mulus-mulus saja, namun keciutan itu hadir menyeruak pada diri saat sampai di tahap interview yang menentukan. Seringkali pewawancara menyampaikan : "Kamu, kenapa tampak tak percaya diri?". Saya yang lagi-lagi merasa tak percaya diri dan kurang pandai berkomunikasi, menyebabkan kekhawatiran memulai hubungan baru, bahkan khawatir tak dapat menjadi seseorang yang terbaik bagi pasangan dan keluarga saya kelak, atau sebaliknya, tak dapat bertemu jodoh 'idaman' sepaket dengan penerimaan yang paripurna dari keluarganya. Khawatir semuanya tak sempurna, tak sesuai rencana. Singkatnya, semua perasaan itu menyebabkan semakin sulitnya memutuskan langkah dan pilihan. Lalu, saya sadari bahwa itulah penyakit yang harus disembuhkan. Let’s unboxing your self!


Pict : unsplash.com

Menerima, memaafkan, mencintai diri dan terus berupaya bertumbuh

Banyaknya hal yang tak dapat diselesaikan saat ini sebetulnya karena kita belum benar-benar menerima, memaafkan dan mencintai diri. Belum menerima dan memaafkan luka-luka masa lalu, kekurangan diri, dan enggan berupaya untuk lebih mencintai dan menyadari betapa berharganya diri --yang telah Allah titipkan dengan segala potensi terbaik menurut-Nya. Jika saja sudah benar-benar ‘selesai’ dengan hal-hal itu, langkah untuk bertumbuh akan semakin ringan, karena fokus kita sudah tak lagi tersedot oleh penyesalan-penyesalan masa lalu atau kekhawatiran-kekhawatiran akan masa depan, namun hadir penuh dan sadar utuh pada upaya-upaya terbaik yang bisa dilakukan hari ini. Berdamai dengan diri, menerima permasalahannya, lalu mencari penyelesaiannya, karena seyogianya tiada lagi yang paling memahami diri kita selain Allah dan kita sendiri, pun tiada lagi yang harus paling bertanggungjawab terhadap diri kita, selain kita sendiri.


Pict : unsplash.com

Mencari referensi cara menghadapinya

Masalah yang terjadi di muka bumi ini seringkali merupakan perulanganduplikasi dari masalah yang pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Maka, mencari ilmu tentang cara menghadapinya menjadi keharusanSaya berikhtiar dengan membaca tulisan-tulisan seputar QLC, baik sekadar dari postingan-postingan media sosialnya orang-orang yang sedang atau pernah menghadapinya, hingga beberapa tulisan ilmiah dari pakar psikologi. Upaya ini saya rasa cukup membantu mengurangi keresahan-keresahan itu.

Tak sekadar membaca, tentu saja perlu pula mendalami pesan-pesannya, lalu mulai berbenah diri dengan mengaplikasikan tips-tips yang diyakini sesuai dengan permasalahan kita. Perlahan saja, jangan memaksakan diri, nanti malah timbul penyebab stress yang baru lagi. Jika pun sulit dan belum mampu memperbaiki kondisi, terus saja jalani. Ingatlah bahwa yang sedang diberi treatment ini adalah diri sendiri, maka kita sendirilah yang dapat mengontrol jenis dan dosis perlakuan, serta evaluasi keberhasilannya.


Pict : unsplash.com

Mencari kesibukan yang bermanfaat

Layaknya fase pertumbuhan, QLC hanyalah sebuah cekaman di suatu tahap kehidupan, maka kita harus tetap bertumbuh seberat apapun ujiannya. Menyadari bahwa kian hari rentetan krisis ini semakin berat, dan sadar bahwa ada yang tak sehat dengan diri, maka saya berupaya mencari “penyembuhannya”, diantaranya melalui kegiatan-kegiatan positif sebagai pengalihan emosi-emosi negatif yang muncul akibat krisis tersebut.

Kata seorang pakar psikologi pada sebuah workshop yang saya hadiri, "emosi negatif mempengaruhi sistem saraf, sehingga menyebabkan munculnya sikap tidak semangat dan produktif". Sebagaimana hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi dapat berubah bentuknya, maka saya berpikir jika tak mampu memusnahkan energi-energi negatif seperti putus asa, overthinking, dsb itu, lebih baik berupaya mengubahnya menjadi energi positif, seperti semangat, keikhlasan, penerimaan, kesabaran, dll. Demi hadirnya energi positif tersebut, saya sempat mengikuti beberapa kegiatan/ kajian seputar bahasan self loveself healingself development, yang berupa event psikologi, kajian keislaman, atau sekadar membaca tulisan-tulisan motivasi dan pengembangan diri. ~bukan pengembangan volume badan, yaa maksudnya ^ ^


Pict : unsplash.com

Mencari 'supporting system'

Kegelisahan, depresi, dan segala beban pikiran akan berakumulasi menjadi tekanan yang bisa meledak kapan saja apabila terus ditahan dan ditimpa tekanan lainnya. Tekanan-tekanan itu harus dikeluarkan, misalnya dengan membaginya pada ‘supporting system’. Supporting system ini dapat berupa orang tua, keluarga, sahabat, suami/istri, atau bahkan ahli, yang kita percayai dan banyak memahami diri kita, yang kepadanya kita bisa menguraikan beban pikiran dengan penuh kepercayaan, lalu memperoleh nasehat dan motivasi yang menguatkan. Memang tak mudah menemukannya, mungkin karena seringnya hubungan-hubungan yang kita jalin hanya sebatas hal-hal yang sifatnya surface saja. Tapi, cobalah saja. Semoga kita menemukannya.


Pict : google.com

Berdo'a dan bertawakkal kepada Allah

Pernah mendengar suatu hadits yang intinya bahwa "do'a adalah senjatanya seorang mukmin"? Maka, bukankah ikhtiar yang disertai do'a tanda kebergantungan dan kepasrahan kita pada Sang Maha Segala adalah paduan yang sempurna?

Lalu, bagaimana jika ikhtiar dan do'a sudah dikerahkah semampu kita, namun penyelesaian atas krisis-krisis itu belum jua terlihat hadirnya? Ah, mari kita ingat kembali sepenggal pesan cinta Allah dalam Q.S Ath-Thalaq ayat ketiga; "...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."

Tak ada yang lebih menenangkan selain dari kepasrahan kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Dengan berpasrah dan bertawakal, menerima segala ketetapan-Nya, menjadikan hati lebih tenang dan optimis menjalani hidup, tidak terlalu mengkhawatirkan masa depan, dan meyakini bahwa Allah sebaik-baiknya penggenggam harapan.

***

Pict : canva.com

Fase QLC ini memberikan pelajaran bahwa ujian-ujian yang Allah berikan pada dasarnya menjadikan diri lebih kuat dan siap untuk menghadapi ujian-ujian lainnya, lebih bijak bertindak, mensyukuri kesempatan-kesempatan, serta berani melakukan upaya-upaya pencapaian impian tanpa terlalu takut pada kegagalan. Krisis-krisis ini memberikan banyak sekali pelajaran hidup, yang mungkin jika kondisinya baik-baik saja dan harapan-harapan terkabul dengan mudahnya, saya takkan terpacu untuk mempelajari dan menemukan nilai-nilai hikmahnya. Jika kemudahan selalu didapatkan, mungkin takkan mampu menghargai setiap proses bertumbuh dan berempati pada orang lain yang juga tengah berjuang, mungkin tak sebanyak ini juga rintihan do’a yang dipanjatkan.

Lantas, apakah dengan menuliskan ini artinya saya sudah benar-benar selesai melewati QLC dengan baik? Tidak. Bahkan, saya masih harus berupaya melewatinya. Tulisan ini ibarat dua mata tombak, pengingat dan penguat untuk pembaca, sekaligus diri sendiri. Lagipula, krisis akan selalu ada pada setiap fasenya. Bentuk dan jalan penyelesaiannya saja yang mungkin berbeda. Bukankah ujian itu adalah tahap yang harus dilalui sebelum kenaikan tingkat? Maka, jalani dan selesaikan saja sebaik-baiknya. Jikapun terpaksa harus diremidi, mungkin tandanya kita memang belum lulus dan layak naik ke tingkat berikutnya. Mungkin Allah ingin kita belajar lebih banyak lagi, berjuang lebih keras lagi, hingga cukup perbekalan kita untuk mengarungi tingkatan kelas hidup selanjutnya.

Saya bersyukur telah Allah kuatkan. Alih-alih mengikuti bisikan-bisikan depresi yang mengajak melakukan hal-hal bodoh yang menyakiti dan merugikan diri, saya lebih memilih terus bertumbuh, melawan segala badai dan cekamanberjuang memperbaiki diri dan meraih mimpi, menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, hari ini sebagai perjuangan dan masa depan sebagai harapan. Mari syukuri segala kesulitan hari ini, lalu kokohkan ikhtiar dan do’a untuk menyongsong esok hari.


Jika malam terasa kian pekat, bersabarlah, karena artinya fajar akan segera tiba. 
Jika kehidupan terasa semakin menyesakkan, bertahanlah, semoga segala harap segera menemukan jalan terangnya.





---------------------------------------------------




Tulisan ini mulanya ditanam dalam sebuah buku antologi berjudul "Melejit Saat Terjepit" yang diterbitkan oleh Motivaksi Inspira pada tahun 2019 lalu. Antologi ini berisi kumpulan kisah inspiratif dari para kontributor. 

Kemudian, saya pindahtanamkan ke kebun ini, dengan beberapa perubahan kecil.

"Quarter Life Crisis Survivor" menjadi salah satu bagian dari buku tersebut, yang saya coba 'selipkan' diantara tulisan-tulisan para senior. Saya bukan seorang penulis, sehingga mohon maklum jika tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari tata bahasa maupun kontennya. 


Saya bukan penggiat, apalagi ahli dibidang psikologi. Saya hanya seorang biasa yang ingin berbagi kisah dan sudut pandang, yang semoga sedikit-banyak ada hal baik yang bisa diambil, terutama bagi para pembaca yang mungkin tengah berada di fase yang sama dengan saya, yang sama-sama merasa 'relate' dengan kondisi tersebut. 

Oleh karena itu, segala hal yang saya tuangkan dalam tulisan tersebut hanya sebatas pandangan pribadi, sependek yang saya rasakan dan alami, bukan hasil kajian secara ilmiah. Seperti yang saya sampaikan pada isi tulisan, bahwa apabila gejala-gejala stres sebagai akibat dari krisis yang tengah dialami sudah tak mampu kita kendalikan sendiri, maka saran saya adalah segeralah meminta 'pertolongan' pada mereka yang mumpuni. Jangan pernah self diagnose, agar tak salah memilih obatnya!

Pendeknya, semoga tulisan singkat tersebut bermanfaat dan berkenan di hati, serta menjadi jalan hadirnya keridhaan Allah.


Salam,

W.ikapediaa


Komentar

Postingan Populer